Apresasi Pementasan Wayang Lakon “Ken Yasodha” Dalang Ki Cahyo Kuntadi S.Sn., M.Sn.

 

Gambar 1. Ki Cahyo Kuntadi sedang mendalang Lakon "Ken Yasodha"

Dalam rangka memperingati Hari Wayang Dunia, Institut Seni Indonesia Surakarta mengadakan pertunjukan Wayang Virtual dengan tema Wayang Indonesia Tangguh Tumbuh Menuju Era Super Smart Society. Pertunjukan ini diadakan pada tanggal 2 – 6 November 2021 pukul 13.00 WIB untuk sesi 1 dan pukul 19.00 WIB untuk sesi 2.  Salah satu dalang yang pentas di pertunjukan tepatnya pada hari rabu pukul 22.40 WIB adalah Ki Cahyo Kuntadi S.Sn., M.Sn. dengan membawakan Lakon/Judul Ken Yasodha. Ki Cahyo Kuntadi (Yoyok) merupakan dalang yang berasal dari Blitar, Jawa Timur.

Lakon Ken Yasodha menceritakan seorang sindhen yang menyentuh perasaan seorang raden bernama Basudewa. Sindhen ini mempunyai nama Ken Yasodha, adalah sindhen yang sangat cantik, suara tembang yang indah. Basudewa kemudian melamar Ken Yasodha dengan janji suci yang telah di ucapkan Basudewa sehingga ken Yasodha yakin dengan Basudewa. Mereka beruburu di hutan untuk mengenalkan hobi basudewa kepada Yasodha, tetapi Yasodha takut di tengah hutan. Ada suara seorang perempuan berteriak meminta pertolongan, dia adalah Maerah seorang gadis yang di paksa menikashi Gorawangsa. Basudewa kemudian bertarung melawan Gorawangsa untuk menyalamatkan Maerah dari paksaan Gorawangsa itu. Pada akhirnya Basudewa memenangkan pertandingan akan tetapi mata dan hati Basudewa tidak terjaga sehingga Basudewa mulai terpikat hatinya kepada Maerah. Yasodha sangat kecewa atas Sikap Basudewa yang tidak menepati janjinya.

Gambar 2. Ki Cahyo Kuntadi sedang memainkan Wayang

Gambar 3. Alunan Musik

Ki Cahyo Kuntadi mementaskan wayang Kulit ini dengan sangat lincah, yaitu dalam menggerakan wayang di layar. Selain dari pergerakan tangan pembawaannya pun menyentuh sekali dari lakon sedih, senang, gembira dan perkelahian di tambah ucapan luas dan artikulasi yang jelas membuat cerita ini mudah di pahami. Iringan musik yang enak dan sesuai irama membuat kita menikmati suasana seni msuik jawa yang indah di tambah sinden yang menyanyikan lagu dan tembang dengan menghayati kita seolah olah hati kita terbawa dengan cerita ini.

Lakon ken Yasodha mengajarkan kita bahwa jangan memandang derajat orang dari sebuah profesi. Karena semua derajat manusia sama tidak ada yang lebih tinnggi maupun rendah. Selain mengajarkan dalam menghargai profesi Lakon Ken Yasodha juga mengajarkan untuk tidak memainkan hati wanita. Karena wanita bukan untuk dimainkan tapi untuk di sayangi.

 Kesimpulan yang saya dapat dari pertunjukan ini adalah seni adalah sebuah karya bermutu. Jadi semua karya seni walau terlihat tradisional tetapi ketika disaksikan atau kita nikmati akan terasa indah. Setiap seni memiliki arti dan sebuah cerita. Seperti seni wayang dengan lakon Ken Yasodha mempunyai cerita yang dapat memberi kita pengajaran. Menurut saya Film dan Televisi sangat berkaitan dengan pewayangan karena kedua unsur memiliki kesamaan yaitu Penceritaan dan Penokohan

 

Amar Yoga Pangestu

211481017

Web ini di buat karena web mhsw.isi-ska.ac.id mengalami error

Mohon Ma'af Pak Ranang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERKENALAN A.Project (Amar Project)

KALENDER 2021 + JADWAL SNMPTN/SBMPTN LENGKAP DENGAN HARI LIBUR NASIONAL, CUTI BERSAMA, GRATIS DAN COLOUR FULL